Penerimaan Status Baru Dalam Perkawinan di Masyarakat

Assalam,,,Wbr

Hay teman-teman kita telah membahas tentang Keluarga dan kali ini , kita akan membahas bagaimana cara membentuk sebuah keluarga melalui Perkawinan. 

Sebagai makluk Ciptaan Allah swt, tentunya kita dianugerahi untuk memiliki rasa suka atau ingin mencintai dan memiliki sebuah pasangan yang selalu menemani kita tiap harinya. 

Dan dari adanya pernikahan kita bisa membangun keluarga besar serta mengubah Status Baru.

Sebelum terbentuknya keluarga, tentu saja di dahului dengan adanya perkawinan di antara calon pasangan hidup untuk mengakhiri masa gadis bagi seorang wanita atau masa bujang bagi seorang lakilaki.

Pembentukan keluarga melalui perkawinan disebut keluarga konyugal, sedangkan perkawinan adalah suatu pola sosial yang telah di setujui dan dua orang yang memiliki jenis kelamin berbeda telah bertekad untuk membentuk sebuah keluarga. 

Perkawinan adalah suatu transaksi yang menghasilkan suatu kontrak seseorang (pria atau wanita, korporatif atau individual, secara pribadi atau melalui wakil) memiliki hak secara terus menerus untuk menggauli seorang wanita atau pria secara sah. 

Hak ini memiliki prioritas bagi lakilaki atau wanita untuk melakukannya secara berkesinambungan, sampai wanita dianggap telah memenuhi syarat untuk memiliki dan melahirkan anak.

Selanjutnya, perkawinan adalah penerimaan status baru untuk siap menerima hak dan kewajiban sebagai pasangan suami istri yang sah diakui masyarakatnya dan hukum. 

Status baru yang diperoleh dan di umumkan biasanya melalui perayaan dengan jalan mengundang kerabat, kenalan, handai taulan, dan lain-lain yang berhubungan dengan kedua belah pihak. 

Perkawinan berlangsung tentu saja disertai upacara keagamaan sesuai yang dianut oleh pasangan pengantin. Mereka yang telah membentuk sebuah keluarga akan memiliki hak untuk menentukan nasibnya sendiri di kemudian hari.

Pasangan hidup yang telah berumah tangga dan membentuk keluarga batih pada dasarnya memiliki fungsi sebagai berikut.

1) Unit terkecil dalam masyarakat yang mengatur hubungan seksual secara berkesinambungan yang sah secara hukum.

2) Wadah tempat berlangsungnya sosialisasi, yakni proses anggotaanggota masyarakat yang baru mendapatkan pendidikan untuk mengenal, memahami, menaati, dan menghargai kaidah-kaidah serta nilai-nilai yang berlaku.

3) Unit terkecil masyarakat yang memenuhi kebutuhan-kebutuhan ekonomis.

4) Unit terkecil dalam masyarakat tempat anggota-anggotanya mendapatkan perlindungan bagi ketenteraman dan perkembangan jiwanya.

Perkawinan untuk membentuk status baru yaitu rumah tangga, yang terjadi di masyarakat idealnya secara monogami, yaitu pasangan hidup antara seorang suami dan seorang istri. 

Akan tetapi, di masyarakat tidak menutup kemungkinan terjadi poligami, yaitu seseorang memiliki pasangan lebih dari satu. 

Poligami dibagi dua: poligini yaitu seorang suami memiliki pasangan lebih dari seorang istri dan poliandri yaitu seorang istri memiliki pasangan lebih dari seorang suami.

Poliandri di Indonesia dilarang dilaksanakan, selain bertentangan dengan norma agama, juga status anak yang dilahir kan oleh istri tidak jelas ayahnya.

Perkawinan tidak boleh dilangsungkan apabila terjadi perkawinan sumbang yang disebut incest,yaitu perkawinan sedarah antara kakak beradik, atau orangtua dengan anaknya. 

Larangan perkawinan sumbang ini sifatnya universal di setiap kelompok manusia karena dianggap melanggar norma yang berlaku.

Secara umum, penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di masyarakat dan tidak dibenarkan untuk dilakukan adalah sebagai berikut.

1) Hidup bersama atas dasar suka sama suka yang tidak diikat oleh tali perkawinan (kumpul kebo).

2) Adanya istri simpanan bagi laki-laki, atau suami simpanan bagi wanita.

3) Melahirkan anak di luar nikah.

4) Hubungan suami istri sebelum pernikahan atau pada masa tunangan.

5) Melakukan hubungan suami istri dengan orang lain yang bukan istri atau suaminya yang sah (perzinaan).

Keutuhan keluarga adakalanya mengalami perpecahan berupa perceraian, sebagai akibat hilangnya keserasian untuk mempertahankan keutuhan keluarga. 

Beberapa masyarakat tertentu (berhubungan dengan agama yang dianut oleh keluarga) melarang adanya perceraian karena perkawinan merupakan anugerah yang tidak boleh dipisahkan, kecuali oleh kematian. 

Oleh karena itu, untuk bercerai akan mengalami kesulitan, kalaupun dapat terjadi perceraian biasanya melalui prosedur yang berbelit-belit. Akan tetapi, adapula masyarakat yang membolehkan suatu keluarga mengalami perceraian. 

Hal ini biasanya apabila suami istri satu sama lain bersepakat untuk mengakhiri rumah tangganya sehingga perceraian dapat dilaksanakan dan masing-masing menempuh jalan hidupnya sendiri.
Persoalan akibat perceraian adalah anak dari keluarga yang bersangkutan. 

Mereka dapat mengikuti salah satu orangtuanya, tetapi dalam jiwa anak akan terjadi konflik batin yang dapat mengakibatkan ketidakpuasan akan kehidupan yang dihadapi.

Oleh karena itu, mereka mencari penyelesaian sendiri terhadap persoalan yang dihadapinya.
Tidak jarang di antara mereka terjerumus pada pergaulan negatif yang dapat merugikan diri sendiri dan merugikan lingkungan sosialnya, baik dalam bentuk penyimpangan perilaku di masyarakat maupun terjerumus dalam penyalahgunaan obat terlarang.

Nah jangan sampai kita sebagai Generasi penerus bangsa, melakukan penyimpangan Sosial seperti Melakukan Hubungan Seksual di Luar Nikah tentunya ini sangat merugikan dan membuat Malu diri Sendiri, Keluarga, Teman, dan masih banyak lagi. 

Jika kita benar-benar ingin membentuk sebuah keluarga, semua ada proses yang perlu kita ikuti dengan baik oke....! 

Karena sesuatu yang Instant juga tidak baik untuk kesehatan diri kita.

Wassalam,,,Wbr

0 Response to "Penerimaan Status Baru Dalam Perkawinan di Masyarakat"