Menulis Puisi Pada Hakikatnya sama Dengan Mengarang Biasa

Menulis puisi pada hakikatnya sama dengan mengarang biasa. Keduanya merupakan kegiatan mengungkapkan ide dan perasaan dengan medium bahasa. Yang membedakan dua kegiatan itu adalah caranya. Dalam kegiatan mengarang biasa, penulis dituntut mampu menyampaikan ide dengan kalimat yang lengkap. Dalam puisi, bukan kelengkapan kalimat yang ditekankan, melainkan pada ketepatan dan kehematan.
Ketepatan pemilihan kata dalam pembuatan puisi tidak hanya pada dimensi makna, tetapi juga dimensi rasa dan suasana. Kemampuan menulis puisi dapat ditingkatkan hanya dengan membiasakan menulis. Langkah-langkahnya sederhana, pahami apa yang ingin kalian sampaikan. Selanjutnya, cari kata yang paling tepat.



Ingat! Tidak hanya tepat dalam mengungkapkan makna denotatif,tetapi tepat pula dalam memilih konotasinya.


Cara lain yang perlu dilatih adalah penggunaan majas. Majas atau gaya bahasa adalah teknik menyampaikan pesan secara tidak langsung. Berbeda dengan bahasa karya ilmiah yang lugas dan langsung, bahasa puisi cenderung menggunakan penyampaian pesan dengan menggunakan simbol. Pembaca dibawa dulu pada perumpamaanperumpamaan
sebelum akhirnya sampai pada pesan yang dimaksud. Perangkat lain yang sering dipakai untuk menciptakan keindahan puisi adalah pada permainan bunyi (rima) dan irama (intonasi). Dengan demikian aspek ini pun harus dipertimbangkan untuk menentukan kata yang tepat.


Contoh Puisi Berikut

Doa


Chairil Anwar

Kepada pemeluk teguh
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namaMu
Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh
cayamu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
aku hilang bentuk
remuk
Tuhanku
aku mengembara di negri asing
Tuhanku
dipintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling


Sumber: Pengkajian Puisi, 1993
Rachmad Djoko Pradopo

Puisi tersebut berisi pengaduan penyair kepada Tuhan sehingga ia pilih kata doa. Kata doa bermakna denotatif, yaitu permohonan.
Kata ini pun mengandung konotasi kepasrahan kepada pencipta. Yang ia adukan adalah nasibnya yang kurang beruntung. Karena itu, ia pilih kata hilang bentuk// remuk//. Setelah berkelana mencari jati diri (disimbolkan dengan majas aku mengembara di negeri asing), penyair akhirnya kembali menyerahkan semuanya kepada Tuhan (Di pintumu aku mengetuk// aku tidak bisa berpaling).

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Menulis Puisi Pada Hakikatnya sama Dengan Mengarang Biasa"