Thursday, August 30, 2018

Contoh Makalah PAI Hakikat Manusia Menurut Islam


Cover Makalah yang Baik Universitas Sriwijaya (UNSRI)


Kata Pengantar


Segala  puji  hanya  milik  Allah SWT.  Shalawat  dan  salam  selalu tercurahkan kepada Rasulullah SAW.  Berkat  limpahan  dan rahmat-Nya penyusun  mampu  menyelesaikan  tugas  makalah ini guna memenuhi tugas  mata kuliah Pendidikan Agama Islam.
            Dengan makalah ini di harapkan dapat memberikan pengajaran dan pemahaman terhadap  kita semua sebagai makhluk ciptaan Allah SWt yang memiliki peranan penting dalam kehidupan di muka bumi.
Manusia juga di pandang sebagai makhluk yang paling tinggi derajatnya di bandingkan makhluk Allah SWT bahkan Allah menyuruh para malaikat untuk bersujud kepada Adam Alaihi salam. Masyarakat barat memiliki pandangan bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki jiwa dan raga serta dibekali dengan akal dan pikiran.
            Terimakasih yang sebesar-besarnya kami sampaikan kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam penyelesaian makalah ini.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan menjadi sumbangan pemikiran kepada pembaca khususnya para mahasiswa Universitas Sriwijaya. Kami sadar bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Untuk itu, saran dan kritik kami terima dengan hati terbuka untuk perbaikan.



Indralaya, 28 Agustus 2018

Penulis

Daftar Isi








BAB I

PENDAHULUAN


Hakikat Manusia Menurut Islam, harus mampu dipahami oleh semua kalangan baik itu anak-anak, orang tua, masyarakat, dan semua kalangan umat islam. Karena dengan mampu memahami makna dari hakikat manusia sesungguhnya, maka hal ini akan menjadi pondasi kuat bagi setiap orang dalam melangkah dan bertindak.
Karena dalam penjabarannya, belajar tentang hakikat manusia berarti sama saja seseorang belajar tentang jadi dirinya masing-masing  sehingga ia mampu mengembangkan semua potensinya dengan baik yang diberikan oleh Allah Swt. Dengan itu juga ia akan mampu membedakan secara jelas mana yang lebih  di prioritaskan dengan yang tidak. Sehingga hal ini nantinya, dapat membuat diri seseorang melangkah dalam jalan kebenaran, dan ia akan lebih berhati-hati dalam bertindak. Hal ini juga akan memantapkan jiwa dan pemikiran seseorang untuk terus beriman serta mendekatkan diri kepada sang Khaliq (Sang Maha Pencipta) paling sempurna.
Dengan memahami hakikat kenapa diri seseorang diciptakan, ini dapat menghindarkan diri seseorang dalam terjerumus kea rah kemaksiatan, kemungkaran, serta kerusakan.

Berdasarkan Latar Belakang di Atas, Adapun Rumusan yang akan dikaji:
1. Bagaimana kajian tentang hakikat manusia?
2. Bagaimana asal usul kejadian manusia?
3. Apa saja potensi potensi manusia?
4. Apa saja kelemahan kelemahan manusia?
5. Apa saja sifat-sifat manusia?
6. Apa saja kelebihannya Manusia atas makhluk lain?



Berdasarkan Rumusan Masalah diatas, Adapun tujuan dari makalah ini:
1. Dapat memahami kajian tentang hakikat manusia
2. Mengetahui tentang asal usul kejadian manusia
3. Mampu memahami dengan baik terhadap potensi yang ada pada diri manusia
4. Mengetahui tentang kelemahan  yang dimiliki sebagai manusia
5. Mengerti dan Memahami dengan baik terhadap sifat-sifat manusia
6. Mampu mendeskripsikan kelebihan Manusia atas makhluk lain





Menurut bahasa, hakikat berarti kebenaran atau seesuatu yang sebenar-benarnya atau asal segala sesuatu. Dapat juga dikatakan hakikat itu adalah inti dari segala sesuatu atau yang menjadi jiwa sesuatu. Karena itu dapat dikatakan hakikat syariat adalah inti dan jiwa dari suatu syariat itu sendiri. Dikalangan tasauf orang mencari hakikat diri manusia yang sebenarnya karena itu muncul kata-kata diri mencari sebenar-benar diri. Sama dengan pengertian itu mencari hakikat jasad, hati, roh, nyawa, dan rahasia.
Manusia adalah mahluk paling sempurna yang pernah diciptakan oleh Allah SWT. Kesempurnaan yang dimiliki oleh manusia merupakan suatu konsekuensi fungsi dan tugas mereka sebagai khalifah dimuka bumi ini.
Kedudukan akal dalam Islam adalah merupakan suatu kelebihan yang diberikan Allah kepada manusia dibanding dengan makhluk-makhluk-Nya yang lain. Dengannya, manusia dapat membuat hal-hal yang dapat mempermudah urusan mereka di dunia.
 Di dalam diri manusia terdapat apa-apa yang terdapat di dalam makhluk hidup lainnya yang bersifat khsusus. Dia berkembang, bertambah besar, makan, istirahat, melahirkan dan berkembang biak, menjaga dan dapat membela dirinya, merasakan kekurangan dan membutuhkan yang lain sehingga berupaya untuk memenuhinya. Dia memiliki rasa kasih sayang dan cinta,rasa kebapaan dan sebagai anak, sebagaimana dia memiliki rasa takut dan aman, menyukai harta, menyukai kekuasaan dan kepemilikan, rasa benci dan rasa suka, merasa senang dan sedih dan sebagainya yang berupa perasaan-perasaan yang melahirkan rasa cinta. Hal itu juga telah menciptakan dorongan dalam diri manusia untuk melakukan pemuasan rasa cintanya itu dan memenuhi kebutuhannya sebagai akibat dari adanya potensi kehidupan yang terdapat dalam dirinya. Makhluk hidup lain melakukannya hanya berdasarkan naluri yang telah Allah ciptakan untuknya sementara manusia melakukannya berdasarkan akal dan pikiran yang telah Allah karuniakan kepadanya.
Pada hakikat diciptakannya manusia menurut islam yakni sebagai mahluk yang di perintahkan untuk menjaga dan mengelola bumi. Hal ini tentu harus kita kaitkan dengan konsekuensi terhadap manusia yang diberikan suatu kesempurnaan berupa akal dan pikiran yang tidak pernah di miliki oleh mahluk-mahluk hidup yang lainnya. Manusia sebagai mahluk yang telah diberikan kesempurnaan haruslah mampu menempatkan dirinya sesuai dengan hakikat di ciptakannya yakni sebagai penjaga atau pengelola bumi yang dalam hal ini disebut dengan khalifah. Status manusia sebagai khalifah , dinyatakan dalam Surat Al-Baqarah ayat 30. Kata khalifah berasal dari kata khalafa yakhlifu khilafatan atau khalifatan yang berarti meneruskan, sehingga kata khalifah dapat diartikan sebagai pemilih atau penerus ajaran Allah.
Namun kebanyakan umat Islam menerjemahkan dengan pemimpin atau pengganti, yang biasanya dihubungkan dengan jabatan pimpinan umat islam sesudah Nabi Muhammad saw wafat , baik pimpinan yang termasuk khulafaurrasyidin maupun di masa Muawiyah-‘Abbasiah. Akan tetapi fungsi dari khalifah itu sendiri sesuai dengan yang telah diuraikan diatas sangatlah luas, yakni selain sebagai pemimpin manusia juga berfungsi sebagai penerus ajaran agama yang telah dilakukan oleh para pendahulunya,selain itu khalifah juga merupakan pemelihara ataupun penjaga bumi ini dari kerusakan.

Manusia adalah makhluk paling sempurna yang pernah diciptakan oleh Allah SWT. Kesempurnaan yang dimiliki manusia merupakan suatu konsekuensi fungsi dan tugas mereka sebagai khalifah di muka dumi ini. Al-Quran menerangkan bahwa manusia berasal dari tanah.

1)      Asal usul kejadian manusia menurut  teori ilmu pengetahuan
Asal usul manusia menurut ilmu pengetahuan tidak bisa dipisahkan dari teori tentang spesies lain yang telah ada sebelumnya melalui proses evolusi. Evolusi menurut para ahli paleontology dapat dibagi menjadi empat kelompok berdasarkan tingkat evolusinya, yaitu :
Pertama, tingkat pra manusia yang fosilnya ditemukan di Johanesburg Afrika Selatan pada tahun 1942 yang dinamakan fosil Australopithecus.
Kedua, tingkat manusia kera yang fosilnya ditemukan di Solo pada tahun 1891 yang disebut pithecanthropus erectus.
Ketiga, manusia purba, yaitu tahap yang lebih dekat kepada manusia modern yang sudah digolongkan genus yang sama, yaitu Homo walaupun spesiesnya dibedakan.
Fosil jenis ini di neander, karena itu disebut Homo Neanderthalesis dan kerabatnya ditemukan di Solo (Homo Soloensis).
Keempat, manusia modern atau Homo sapiens yang telah pandai berpikir, menggunakan otak dan nalarnya.

2)      Asal usul kejadian manusia  berdasarkan Alquran
Terlepas dari beberapa pendapat diatas, benar atau salah, terbukti atau tidak, mari kita lihat apa yang ada dalam al qur an.
a.       Manusia terbuat dari air
Dalam QS Al-Furqan 54 Allah SWT berfirman :
وَهُوَ ٱلَّذِى خَلَقَ مِنَ ٱلۡمَآءِ بَشَرً۬ا فَجَعَلَهُ ۥ نَسَبً۬ا وَصِهۡرً۬ا‌ۗ وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيرً۬ا
Artinya: ”Dan Dia [pula] yang menciptakan manusia dari air, lalu Dia jadikan manusia itu [punya] keturunan dan mushaharah, dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa.”
b.      Manusia terbuat dari tanah debu
Allah berfirman dalam QS Ali Imran 59 :
إِنَّ مَثَلَ عِيسَىٰ عِندَ ٱللَّهِ كَمَثَلِ ءَادَمَ‌ۖ خَلَقَهُ ۥ مِن تُرَابٍ۬ ثُمَّ قَالَ لَهُ ۥ كُن فَيَكُونُ
Artinya: “Sesungguhnya misal [penciptaan] ’Isa di sisi Allah, adalah seperti [penciptaan] Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: "Jadilah" [seorang manusia], maka jadilah dia”.
c.       Manusia terbuat dari Tanah liat
Allah berfirman dalam QS Ash-shaaffat 11 :
فَٱسۡتَفۡتِہِمۡ أَهُمۡ أَشَدُّ خَلۡقًا أَم مَّنۡ خَلَقۡنَآ‌ۚ إِنَّا خَلَقۡنَـٰهُم مِّن طِينٍ۬ لَّازِبِۭ
Artinya: “Maka tanyakanlah kepada mereka [musyrik Mekah]: "Apakah mereka yang lebih kokoh kejadiannya ataukah apa [2] yang telah Kami ciptakan itu?" Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah liat.”
d.      Manusia terbuat dari tanah lumpur
Allah berfirman dalam Qs Al-Hijr 28 :
وَإِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلَـٰٓٮِٕكَةِ إِنِّى خَـٰلِقُۢ بَشَرً۬ا مِّن صَلۡصَـٰلٍ۬ مِّنۡ حَمَإٍ۬ مَّسۡنُونٍ۬

Artinya: “Dan [ingatlah], ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering [yang berasal] dari lumpur hitam yang diberi bentuk.”
e.       Manusia terbuat dari tanah tembikar
Allah berfirman dalam Qs Ar Rahman 14 :
خَلَقَ ٱلۡإِنسَـٰنَ مِن صَلۡصَـٰلٍ۬ كَٱلۡفَخَّارِ
Artinya: “Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar”.
f.        Manusia terbuat dari saripati tanah
Allah berfirman Qs Al Mu minun 12-16 :
وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَـٰنَ مِن سُلَـٰلَةٍ۬ مِّن طِينٍ۬  ثُمَّ جَعَلۡنَـٰهُ نُطۡفَةً۬ فِى قَرَارٍ۬ مَّكِينٍ۬ ثُمَّ خَلَقۡنَا ٱلنُّطۡفَةَ عَلَقَةً۬ فَخَلَقۡنَا ٱلۡعَلَقَةَ مُضۡغَةً۬ فَخَلَقۡنَا ٱلۡمُضۡغَةَ عِظَـٰمً۬ا فَكَسَوۡنَا ٱلۡعِظَـٰمَ لَحۡمً۬ا ثُمَّ أَنشَأۡنَـٰهُ خَلۡقًا ءَاخَرَ‌ۚ فَتَبَارَكَ ٱللَّهُ أَحۡسَنُ ٱلۡخَـٰلِقِينَ ثُمَّ إِنَّكُم بَعۡدَ ذَٲلِكَ لَمَيِّتُونَ ثُمَّ إِنَّكُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَـٰمَةِ تُبۡعَثُونَ
Artinya: “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati [berasal] dari tanah. (12) Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani [yang disimpan] dalam tempat yang kokoh [rahim]. (13) Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang [berbentuk] lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik. (14) Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati. (15) Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan [dari kuburmu] di hari kiamat. (16)”.
g.      Manusia terbuat dari tanah bumi
Allah berfirman dalam Qs An Najm 32 :
ٱلَّذِينَ يَجۡتَنِبُونَ كَبَـٰٓٮِٕرَ ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡفَوَٲحِشَ إِلَّا ٱللَّمَمَ‌ۚ إِنَّ رَبَّكَ وَٲسِعُ ٱلۡمَغۡفِرَةِ‌ۚ هُوَ أَعۡلَمُ بِكُمۡ إِذۡ أَنشَأَكُم مِّنَ ٱلۡأَرۡضِ وَإِذۡ أَنتُمۡ أَجِنَّةٌ۬ فِى بُطُونِ أُمَّهَـٰتِكُمۡ‌ۖ فَلَا تُزَكُّوٓاْ أَنفُسَكُمۡ‌ۖ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَنِ ٱتَّقَىٰٓ

Artinya: “[Yaitu] orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Luas ampunan-Nya. Dan Dia lebih mengetahui [tentang keadaan]mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.”

Potensi adalah sebuah kemampuan dasar yang dimiliki manusia yang sangat mungkin untuk dikembangkan, sehingga pada intinya potensi sendiri berarti suatu kemampuan yang masih bisa dikembangkan menjadi lebih baik lagi.
Karena manusia adalah satu – satunya makhluk Allah yang diberi tugas sebagai khalifah di dunia ini. Karena tugasnya sebagai khalifah ini, maka didalam diri manusia pasti meiliki potensi – potensi yang dapat mendukug tugasnya sebagai khalifah. Karena tidaklah mungkin Tuhan mem­berikan tugas kepada manusia tanpa bekal apa­pun. Ada tiga potensi yang adapada diri manusia, yaitu potensi akal, potensi jasmani dan potensi rohani.
1.      Potensi Akal
Akal adalah karunia yang Allah Swt berikan kepada manusia, yang menjadikan manusia berbeda dengan makhluk Allah Swt yang lain. Ketinggian derajat manusia dibandingkan dengan mahkluk yang lain adalah karena manusia memiliki akal. Namun Allah Swt menghendaki agar akal kita digunakan untuk memikirkan tentang keberadaan dan keEsaan Allah Swt. Jika akal manusia digunakan untuk memikirkan keberadaan dan keEsaan Allah maka manusia akan mengenal Allah Swt. Dan akal manusia akan menjadi bernilai di sisi Allah Swt.
Dengan potensi akal manusia mam­pu mencari ilmu pengetahuan, penemuan-pe­ne­muan dan menciptakan segala sesuatunya. Akallah yang bisa kita gunakan untuk mencip­ta­kan ilmu yang bermanfaat dan menciptakan se­ga­la sesuatu yang mempunyai kemaslahatan bagi ma­nu­sia lainnya, dan begitu pula sebaliknya.
2.      Potensi Rohani
Potensi rohani merupakan potensi yang penting bagi manusia. Jiwa atau Ruh merupakan potensi asasi manusia yang sepenuhnya ditentukan oleh Allah. De­ngan potensi rohani, manusia dapat melihat mana yang haq dan mana yang bathil, mana yang benar dan mana yang salah, mana yang bersih dan mana yang kotor, maka jika hati manusia bersih tentunya ma­nusia akan memilih yang haq, benar, dan bersih. Begitu pula sebaliknya. Maka dari  itu sebagai manusia yang memiliki potensi rohani, kita harus memperkuat keyakinan kita agar potensi ini berjalan dengan baik.
3.      Potensi Jasmani
Potensi jasmani manusia sangat didukung oleh kuatnya jasmani. Dan kuatnya jasmani sangat didukung oleh masukan makanan bergizi yang mengandung zat yang dibutuhkan oleh tubuh kita dan diikuti pula oleh istirahat yang cukup. Tak lupa olahraga akan membuat jasmani kita semakin bertambah kuat. Manusia bisa meng­gunakan potensi ini untuk berbuat amal kebaikan dan melakukan apa saja yang bermanfaat bagi diri­nya sendiri, keluarga, masyarakat, agama, nusa dan bang­sa.
Kesimpulan yang dapat kita ambil dari uraian diatas adalah bahwa manusia yang sukses adalah manusia yang mampu mengoptimalkan ketiga potensi yang dimilikinya semaksimal mungkin secara seimbang. Dan apabila ketiga potensi ini diberi makanan yang tepat, maka akan terbentuk sosok manusia yang kuat jasmani, kuat akalnya, dan memiliki kekuatan rohani pula. Ketiga potensi itu harus diisi bersama – sama secara proporsional.
            Pada dasarnya manusia adalah makhluk yang mempunyai berbagai kelemahan.  Walaupun manusia diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya dan dalam bentuk yang sempurna namun tetap memiliki kelemahan yang mendasar sebagai bentuk ujian manusia ketika hidup di dunia yang fana.
Allah menggambarkan kelemahan-kelemahan manusia dalam al Qur’an. Manusia itu selalu membantah, bersifat lemah, selalu zalim dan bodoh, senang berbuat maksiat, mencintai kehidupan dunia, melampaui batas, malas berbuat baik, senang berkeluh kesah dan gelisah, tergesa-gesa, dan pelit.
 Beberapa Bentuk Kelemahan Manusia yang Hidup di Dunia Pada Umumnya :
1.      Bodoh
Secara umum kita manusia adalah makhluk yang bodoh karena tahu kebenaran namun enggan untuk menjalankannya. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Ahzab ayat 72 Berikut :
إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ ۖ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا
Artinya : “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh”.(QS. Al-Ahzab 72)
2.      Zalim
Manusia zalim karena cenderung membinasakan diri sendiri serta mencari kesenangan tanpa mempedulikan nasib orang lain. Hal ini juga terdapat pada penjelasan QS Al-Ahzab ayat 72.
3.      Kikir
Manusia kikir karena suka menimbun harta serta malas untuk menafkahkan hartanya di jalan Allah SWT.Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Isra’ ayat 100 Berikut :
قُلْ لَوْ أَنْتُمْ تَمْلِكُونَ خَزَائِنَ رَحْمَةِ رَبِّي إِذًا لَأَمْسَكْتُمْ خَشْيَةَ الْإِنْفَاقِ ۚ وَكَانَ الْإِنْسَانُ قَتُورًا
Artinya : “Katakanlah: "Kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya". Dan adalah manusia itu sangat kikir”. (QS. Al-Isra 100)
4.      Mengeluh
Manusia berkeluh kesah ketika berhadapan dengan kesulitan namun tidak halnya jika mendapatkan kenikmatan. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Ma’arij ayat 19 Berikut :
إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا
Artinya : “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir”. (QS. Al-Ma’arij 19)
5.      Lemah
Manusia adalah makhluk yang lemah karena penuh dengan keterbatasan kemampuan serta mudah meninggal dunia (mati) hanya dengan berbagai hal sepele nan mematikan. Sebagaimana firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 28 Berikut :
يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُخَفِّفَ عَنْكُمْ ۚ وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا
Artinya : “Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah”.(QS. An-Nisa 28)
Dari kutipan terjemahan ayat-ayat di atas maka dapat kita simpulkan bahwa manusia memanglah diberikan kelemahan yang mendasar.  Allah SWT memberikan kita kekurangan agar kita tidak sombong sehingga kita bisa sadar bahwa diri kita lemah dan kecil di hadapan Allah SWT.  Tidak sepantasnya kita menyombongkan diri kita sendiri di hadapan orang lain karena merasa memiliki berbagai kelebihan strategis yang tidak dimiliki oleh kebanyakan orang.

Karakter atau watak adalah sifat batin yang tampak & memengaruhi segenap pikiran, perilaku, budi pekerti & tabiat yang dimiliki manusia atau makhluk hidup lainnya.
1.      Manusia merupakan makhluk yang lemah
Meski terkadang kita lihat ada manusia yang merasa dirinya kuat dibandingkan dengan orang lain, namun ternyata semua manusia pada dasarnya sangatlah lemah. Sebagaimana firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 28 Berikut :
يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُخَفِّفَ عَنْكُمْ ۚ وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا
Artinya : “Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah”.(QS. An-Nisa 28)
2.      Mudah Terpedaya
Diakhir nanti, neraka sesungguhnya akan banyak dihuni oleh manusia dikarenakan mudahnya manusia terpedaya oleh hasutan setan. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al Infithar Ayat 6 Berikut :
يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ
 Artinya : “Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah”.(QS. Al-Infithar 6)
3.      Manusia Bersifat Lalai

Banyak ayat yang menjelaskan bahwa manusia merupakan makhluk yang lalai, terutama dalam ketaatan kepada Allah karena mementingkan kehidupan duniawi. Sebagaimana firman Allah dalam surat At-Takasur ayat 1 Berikut :
أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ
Artinya : “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu”.(QS. At-Takasur 1)
4.      Manusia adalah Penakut
Ketakutan dalam diri manusia bukanlah dalam perkara ghaib saja, namun juga berbagai perkara yang berhubungan dengan kehidupan yang mereka jalani selama di dunia. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 155 Berikut  :
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
Artinya : “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”.(QS. Al-Baqarah 155)
5.      Mudah Bersedih
Manusia diciptakan dengan sifat yang mudah bersedih hati. Karena kesedihan tersebut, banyak yang akhirnya berputus asa dari pertolongan Allah. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 62 Berikut :
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَىٰ وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Artinya : “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.(QS. Al-Baqarah 62)
6.      Tergesa-Gesa
Sifat manusia disebut dalam Al-Qur’an adalah senantiasa tergesa-gesa, baik dalam amalan untuk dunia ataupun amalan untuk akhirat. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Isra ayat 11 Berikut :
وَيَدْعُ الْإِنْسَانُ بِالشَّرِّ دُعَاءَهُ بِالْخَيْرِ ۖ وَكَانَ الْإِنْسَانُ عَجُولًا
Artinya : “Dan manusia mendoa untuk kejahatan sebagaimana ia mendoa untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa”.(QS. Al-Isra 11)
7.      Suka Membantah
Sifat manusia yang lain adalah suka membantah. Tentu saja hal ini banyak difokuskan bantahan terhadap keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Sebagaimana firman Allah dalam surat An-Nahl ayat 4 Berikut :
خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٌ مُبِينٌ
Artinya : “Dia telah menciptakan manusia dari mani, tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata”.(QS. An-Nahl 4)
8.      Suka Berlebih-lebihan
Mengapa Allah dalam beberapa ayat senantiasa mengakhiri dengan kalimat ‘Jangan berlebih-lebihan’? ini karena memang sifat manusia tidak puas dan selalu ingin lebih dalam segala sesuatu. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Alaq ayat 6 Berikut :
كَلَّا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَيَطْغَىٰ
Artinya : “Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas.”(QS. Al-Alaq 6)
9.      Pelupa
Manusia memang seringkali lupa dengan nikmat yang telah Allah berikan. Padahal nikmat tersebut sangat jelas di hadapannya, namun tertutup karena sifat buruknya. Sebagaimana firman Allah dalam surat Az-Zumar ayat 8 Berikut :
وَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ ضُرٌّ دَعَا رَبَّهُ مُنِيبًا إِلَيْهِ ثُمَّ إِذَا خَوَّلَهُ نِعْمَةً مِنْهُ نَسِيَ مَا كَانَ يَدْعُو إِلَيْهِ مِنْ قَبْلُ وَجَعَلَ لِلَّهِ أَنْدَادًا لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ قُلْ تَمَتَّعْ بِكُفْرِكَ قَلِيلًا ۖ إِنَّكَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ
Artinya : “Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya; kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdoa (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu, dan dia mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: "Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu sementara waktu; sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka".(QS. Az-Zumar 8)
10.  Senang Berkeluh Kesah
Tak hanya senang bersedih, namun manusia juga senantiasa berkeluh kesah atas kehidupan yang Allah berikan. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Ma’arij ayat 20 Berikut :
إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا
Artinya : “Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan”.(QS. Al-Ma’arij 20)
11.  Manusia Makhluk Kikir
Sifat yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan merupakan sifat yang buruk adalah kikir dimana ia enggan untuk membagi nikmat yang telah didapatnya kepada orang lain. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Isra ayat 100 Berikut :
قُلْ لَوْ أَنْتُمْ تَمْلِكُونَ خَزَائِنَ رَحْمَةِ رَبِّي إِذًا لَأَمْسَكْتُمْ خَشْيَةَ الْإِنْفَاقِ ۚ وَكَانَ الْإِنْسَانُ قَتُورًا
Artinya : “Katakanlah: "Kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya". Dan adalah manusia itu sangat kikir”.(QS. Al-Isra 100)
12.  Kufur Nikmat
Sifat manusia yang sangat buruk dan telah disebut dalam Al-Qur’an adalah kufur terhadap nikmat Allah. Sebagaimana firman Allah dalam surat Az-Zukhruf ayat 15 Berikut :
وَجَعَلُوا لَهُ مِنْ عِبَادِهِ جُزْءًا ۚ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَكَفُورٌ مُبِينٌ
Artinya : “Dan mereka menjadikan sebahagian dari hamba-hamba-Nya sebagai bahagian daripada-Nya. Sesungguhnya manusia itu benar-benar pengingkar yang nyata (terhadap rahmat Allah)”.(QS. Az-Zukhruf 15)
13.  Senang Menuruti Prasangka
Manusia merupakan makhluk yang lebih dahulu mengutamakan prasangka. Tak heran jika Allah menyebut sifat manusia tersebut dalam Al-Qur’an dengan jelas. Sebagaimana firman Allah dalam surat Yunus ayat 36 Berikut :
وَمَا يَتَّبِعُ أَكْثَرُهُمْ إِلَّا ظَنًّا ۚ إِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِمَا يَفْعَلُونَ
Artinya : “Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan”.(QS. Yunus 36)
Manusia pada hakikatnya sama saja dengan makhluk hidup lainnya, yaitu memiliki hasrat dan tujuan. Ia berjuang untuk meraih tujuannya dengan di dukung oleh pengetahuan dan kesadaran. Perbedaan di antara keduanya terletak pada dimensi pengtahuan, kesadaran, dan tingkat tujuan. Di sinilah letak kelebihan dan keunggulan yang di banding dengan makhluk lain. Di banding makhluk lainnya, manusia mempunyai kelebihan. Kelebihan itu membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Isra ayat 70 Berikut :
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا
Artinya : “Dan sesungguhnya Kami telah memuliakan anak adam (manusia) dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami melebihkan mereka atas makhluk-makhluk yang Kami ciptakan, dengan kelebihan yang menonjol”. ( QS. Al Isra 70)
Pada prinsipnya, malaikat adalah makhluk yang mulia. Namun jika manusia beriman dan taat kepada Allah SWT ia bisa melebihi kemuliaan para malaikat. Ada beberapa alasan  yang mendukung pernyataan tersebut.
Pertama, Allah SWT memerintahkan kepada malaikat untuk bersyujud (hormat) kepada Adam as. Allah berfirman saat awal penciptaan manusia dalam surat Al-Baqarah ayat 34 Berikut :
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ
Artinya : “Dan ingatlah ketika Kami berfirman kepada Malaikat, sujudlah kamu kepada adam, maka sujudlah mereka kecuali iblis, ia enggan dan takabur  dan ia adalah termasuk golongan kafir”.( QS. Al Baqarah 34)
Manusia memiliki karakter yang khas, bahkan di bandingkan makhluk lain yang paling mirip sekalipun. Kekhasan inilah yang menurut Al-Qur’an menyebabkan adanya konsekuensi kemanusiaan di antaranya kesadaran, tanggung jawab, dan pembalasan. Diantara karakteristik manusia adalah:
1.      Aspek kreasi
Apapun yang ada pada tubuh manusia sudah di rakit dalam suatu tatanan yang terbaik dan sempurna. Hal ini bisa di bandingkan dengan makhluk lain dalam aspek penciptaannya. Mungkin banyak kesamaannya, tetapi tangan manusia lebih fungsional dari tangan sinpanse, demikian pula organ-organ lainnya.
2.      Aspek ilmu
Hanya manusia yang punya kesempatan memahami lebih jauh hakekat alam semesta di sekelilingnya. Pengatahuan hewan hanya berbatas pasa naluri dasar yang tidak bisa di kembangkan melalui pendidikan dan pengajaran. Manusia menciptakan kebudayaan dan peradaban yang terus berkembang.
3.      Aspek kehendak
Manusia memiliki kehendak yang menyebabkan bisa mengadakan pilihan dalam hidup. Makhluk lain hidup dalam suatu pola yang telah baku dan tak akan pernah berubah. Para malaikat yang mulia tak akan pernah menjadi makhluk yang sombong atau maksiat.
4.      Pengarahan akhlak
Manusia adalah makhluk yang dapat di bentuk akhlaknya. Ada manusia yang sebelulmnya baik, tetapi karena pengaruh lingkungan tertentu dapat menjadi penjahat. Demikian pula sebaliknya. Oleh karena itu lembaga pendidikan diperlukan untuk mengarahkan kehidupan generasi yang akan datang.

Hakekat manusia adalah kebenaran atas diri manusia itu sendiri sebagai makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT. Tetapi terdapat dua sudut pandang yang dapat digunakan untuk memahami apa hakekat manusia itu, yaitu dari pandangan umum dan pandangan agama Islam.
Hakekat manusia menurut pandangan umum mempunyai arti bermacam-macam, karena tedapat berbagai ilmu dan perspektif yang memaknai hakekat manusia itu sendiri. Seperti dalam perspektif filsafat menyimpulkan bahwa manusia merupakan hewan yang berpikir karena memiliki nalar intelektual. Dalam perspektif ekonomi mengatakan bahwa manusia adalah makhluk ekonomi.
Perspektif Sosiologi melihat bahwa manusia adalah makhluk social yang sejak lahir hingga matinya tidak pernah lepas dari manusia lainnya. Sedangkan, perspektif antropologi berpendapat manusia adalah makhluk antropologis yang mengalami perubahan dan evolusi. Dan dalam perspektif psikologi, manusia adalah makhluk yang memiliki jiwa.
Hakekat manusia menurut pandangan Islam:
1.      Sebagai khalifah dimuka bumi
2.      Untuk beribadah kepada Allah

Sebagai civitas akademik yang berpendidikan, sebaikya mahasiswa memahami pengertian hakikat manusia dan dapat menerapkan hakikat manusia di dunia pendidikan.




Syafei, I. (2013). Hakikat manusia menurut islam. Psympathic: Jurnal Ilmiah Psikologi, 6(1), 743-755.
Rahardjo, M. D. (Ed.). (1987). Insan kamil: konsepsi manusia menurut Islam. Pustaka Grafitipers.
Tafsir, A. (1992). Ilmu pendidikan dalam perspektif Islam. Remaja Rosdakarya.
Khasinah, S. (2013). Hakikat Manusia Menurut Pandangan Islam Dan Barat. Jurnal Ilmiah Didaktika, 13(2).
Rahardjo, M. D., & Rachman, B. M. (1996). Ensiklopedi al-Qur'an: tafsir sosial berdasarkan konsep-konsep kunci. Diterbitkan oleh Penerbit Paramadina bekerjasama Jurnal Ulumul Qur'an.




EmoticonEmoticon